Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Heboh Jari Masuk Memek saat di Atas Panggung

Heboh Jari Masuk Memek saat di Atas Panggung

  Iklans.com - Aku punya sebuah kebiasaan sejak lama. Aku suka sekali bila tubuhku dipandangi dengan bebas. Mungkin karena aku terlalu mencintai tubuhku. Aku selalu merawat tubuhku agar tetap indah untuk dipandangi orang lain. Aku merawat kulit, rajin mandi susu, wax juga kulakukan. Dadaku sangat montok. Ukuran 36B, perutku rata, dan aku masih perawan. Aku suka bila dilihati tetapi tidak suka dijamah. Vaginaku sangat indah bila kuperhatikan, karena bulunya tidak begitu lebat, juga tidak tipis. Aku benar-benar mencintai tubuhku.

Hari itu aku dapat voucher menginap di sebuah hotel di Bali. Tadinya aku ingin mengajak teman-temanku. Tetapi aku berpikir mungkin aku ingin sendiri dulu.


Aku suka memakai bra yang mendorong dadaku naik. Sehingga dadaku terlihat lebih besar. Aku juga suka mengenakan rok pendek dan G string. Hari itu aku mengenakan rok yang sangat pendek hanya sepantat. Dan aku memakai kaos ketat berwarna putih dengan bra yang membuat dadaku sehingga terlihat lebih besar. Saat di toilet sebelum check in, aku sadar bahwa dadaku akan tampak lebih indah bila tidak dibungkus bra. Maka aku lepas braku hingga para tamu melihat padaku karena aku cantik, sexy dan tinggi seperti model-model porno yang mereka lihat di majalah.

Hari itu sangat panas. Aku merasa sangat horny. Ketika masuk ke kamar, aku langsung membuka jendela balkon. Kulihat, di sana langsung menghadap pantai, beberapa kelompok orang sedang berdiri memandang ke hotel arahku. Lalu aku bertambah horny. Aku membuka kausku begitu saja, duduk di balkon kamarku. Mata-mata mereka memandangi dadaku yang telanjang dan mencuat itu. Aku berniat memanas-manasi mereka sambil pura-pura tidak peduli.

Aku meraba dadaku dan mencubit putingnya. Aku merasakan sensasi menggelitik. Mungkin karena aku sedang ditonton, juga karena memang aku sedang horny. Aku membelai perutku dan menurunkan sedikit rokku. Mengelus-elus paha dan pangkal pahaku sementara tatapan mereka semakin nyalang. Aku pura-pura tidak melihat dan tenggelam dalam duniaku sendiri. Aku menyusupkan tanganku ke dalam rok dan mengusap-usap vaginaku yang mulai basah. Lalu aku mengeluarkan tanganku dan menghisapnya.

Kemudian aku menungging di atas kursi dan menggosok-gosokan dadaku di kursi seperti kucing, lalu menggosok-gosokan vaginaku di lengan kursi. Seakan aku juga terjebak dalam permainanku sendiri, aku menyambar handuk dan menutupi dadaku. Lalu aku menurunkan rokku dengan dramatis, agar mereka bisa melihat pantatku yang indah. Aku sengaja lebih menungging lagi agar mereka bisa melihat vaginaku dari belakang.

Aku merasa penontonku semakin banyak. Aku semakin berani. Kunaikkan kakiku di atas pagar balkon dan duduk di kursi dengan handuk menutupi dadaku. Lalu aku merentangkan kakiku selebar-lebarnya dan mengusap-usap klitorisku. Seluruh tubuhku menggelinjang keenakan dan aku melenguh. Semakin lama aku menggosok vaginaku semakin cepat. Sentuhan di benjolan itu membuat tubuhku menggila. Aku berusaha menahan agar aku tidak cepat-cepat orgasme. Aku menggosoknya lebih pelan dan agak turun intensitasnya. Lalu kupercepat lagi. Aku hampir menjerit saking nikmatnya. Lalu aku membuka vaginaku dengan tangan kanan dan tangan kiriku masih menggosok vaginaku dengan penuh nafsu.

Aku hampir orgasme. Aku benar-benar menjerit keenakan. Kulihat mereka terbengong dengan penuh nafsu. Dan aku pun akhirnya orgasme. Aku merentangkan kakiku semakin lebar dan kumasukkan tiga jari sekaligus ke liang vaginaku. Kukeluarmasukkan di permukaannya karena aku takut menerobos keperawananku.

Aku menutup mata dalam posisi jari dalam vagina. Beberapa saat kemudian, aku mengusap vaginaku lagi, kali ini dengan tangan meraba-raba dadaku sehingga handukku pun terjatuh. Aku menggosok-gosoknya sampai aku terduduk lemas saking enaknya. Lalu aku menjilat jari-jariku dengan tatapan nakal. Lanjut baca!


Cerita Sex Arthur - Sweet Reunion 2

Cerita Sex Arthur - Sweet Reunion 2

  Iklans.com - Jam 7 pagi, saya sudah tiba di rumah Lily. Kita ke Bandung naik mobil Land Cruiser saya dan ingin pergi pagi karena takut macet di jalan. Setelah pamit dengan orang tua Lily, kami langsung berangkat menuju jalan tol Cikampek. Ngobrol dengan Lily serasa tidak ada habis-habisnya. Berbagai macam cerita lucu ditempat kerja atau selama masih di Amerika kami bagi bersama. Sambil bercerita, tangan Lily mengelus-elus kontolku. Karena tak tahan dielus-elus, saya membuka risleting celana lalu Lily mengeluarkan kontolku. Lily langsung mengulum kontolku sembari saya menyetir mobil.


Saya terpaksa mengurangi kecepatan mobil karena takut mengalami kecelakaan. Bayangkan menyupiri mobil dengan kecepatan 90 km/jam sambil kontol anda dihisap tentu membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Salah sedikit akan celaka. Sambil menikmati kontol dihisap, saya membelai kepala Lily. Selang beberapa menit kemudian, peju saya muncrat didalam mulut Lily. Lily menelan semua peju dan menjilat kontol saya sampai bersih. Selesai dihisap kontol, saya langsung kembali memacu mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di Bandung. Jam 9 pagi kami tiba di Bandung dan langsung check in di Hotel Hyatt di belakang Bandung Indah Plaza. Sengaja pilih hotel ini karena dekat kemana-mana.

Begitu masuk ke kamar, tanpa basa-basi, saya langsung mendorong Lily ke tempat tidur dan rok mininya saya buka beserta celana dalamnya, dengan penuh nafsu vagina Lily saya jilat. Lily mengerang dengan penuh nikmat setiap kali lidah saya menjilat klitorisnya. Lily membuka kaos dan BHnya kemudian ia meremas-remas payudaranya sendiri. Puas menjilat vaginanya, saya langsung membuka celana dan baju saya sehingga kita berdua telanjang bulat lalu saya masukkan kontolku ke vagina Lily dalam posisi missionary.

Tubuh kita yang saling berkeringat bergoyang dalam satu irama. Saya memegang kedua belah paha Lily yang terjuntai di pundak saya. Lily menikmati kontol saya sambil memejamkan matanya. Tak henti-hentinya mulunya mengeluarkan suara “oohh” dan “ahh” dengan memekik. Sembari menggenjot kontolku dalam vaginanya, tangan kanan saya meremas-remas payudara Lily yang berukuran 36 C. Kulit Lily yang putih bersih membuat tubuh Lily terlihat sangat indah dan sensual. Beberapa lama kemudian, saya ejakulasi dalam vagina Lily. Lily memekik dengan keras sambil mencengkeram pundak saya dengan keras. Wajah Lily terlihat menikmati orgasme yang baru saja dialami. Setelah bersetubuh, kami lalu tidur tanpa mengenakan sehelai benang.

Seharian kami habiskan waktu di outlet di sepanjang jalan Martadinata. Lily sibuk mencari pakaian-pakaian hangat yang ia perlukan selama di Amerika. Walaupun hanya pergi 3 minggu, tetapi dasar wanita kebutuhannya terlihat banyak sekali. Jam 19:00, kami pergi ke The Valley di daerah Dago untuk makan malam. Pemandangan dari restaurant The Valley sangat romantis.

Selesai makan malam, kami tiba di hotel jam 22:00. Malam itu kami tidak bersetubuh tapi hanya nonton tv tanpa mengenakan baju. Sambil nonton TV, saya memijit punggung Lily yang mulus dan putih.

Minggu, 12 September 2004

Pagi hari kami terbangun jam 7 pagi. Saya terbangun karena merasakan ada rasa geli di daerah selangkangan saya. Begitu terbangun, ternyata saya melihat Lily sedang menghisap kontol saya. Saya mengelus punggung dan pantatnya lalu mengelus vaginanya. Setelah menghisap kontol saya, saya meminta Lily nungging di tempat tidur lalu saya berlutut di belakang Lily. Saya membuka belahan pantat Lily kemudian saya mulai menjilat anus dan vaginanya. Lily mendesah-desah dengan penuh nikmat. Anus dan vagina Lily basah oleh jilatan lidah saya. Kemudian saya arahkan kontolku ke anus Lily. Lily sedikit mengerang kesakitan saat kontol saya memasukin anusnya. Pelan-pelan saya masukkan kontolku sehingga masuk seluruhnya kemudian kembali pelan-pelan saya tarik keluar. Begitu seterusnya sampai Lily terbiasa. Kontol saya terasa seperti diremas-remas dalam anus Lily.

Lily mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur. Saya memegang pinggulnya lalu mengikuti irama goyangan Lily. Kelihatannya Lily tidak begitu menikmati posisi ini tetapi ia tetap membiarkan saya menyetubuhi anusnya. Saya menggenjot anusnya secara perlahan-lahan karena tidak mau membuat Lily kesakitan. 6-7 menit saya menggenjot anusnya sampai ejakulasi dan peju saya mengisi anus Lily. Dengan nafas terengah-engah, Lily tengkurap di tempat tidur kemudian ia bangkit berdiri lalu ke kamar mandi untuk bilas diri.

Selesai sarapan, kami ke Rumah Mode di Jalan Setiabudi lalu makan siang di restaurant Tomodachi di Pasir Kaliki. Karena tadi pagi saya men-sodomi Lily, ia terpaksa jalannya agak pelan dan sedikit ngangkang. Saya agak kasihan melihatnya. Lanjut baca!


Cerita Sex Arthur - Sweet Reunion 1

Cerita Sex Arthur - Sweet Reunion 1

  Tradingan.com - Capek euy! Saya menggumam dalam hati di dalam lift. Saya rapat ditempat client dari jam 2 siang sampai jam 6 sore. Kepala sedikit pusing dan repot keroncongan. Di lobby gedung Sudirman Square Office, saya mampir ke Café Oh La La untuk beli makanan. Sambil makan sandiwich dan minum kopi, saya masih memikirkan hasil dari rapat. Tidak berapa lama saya mendengar ada yang memanggil saya.

“Arthur?”

Saya mengangkat kepala dan di sebelah saya ada seorang wanita membawa nampan berisi croissant dan coca cola.

“Ya ampun, Lily? Apa kabar?” tanya saya dengan gembira.


Saya berdiri lalu memeluk dan mencium pipi Lily (bukan nama asli). Lily pernah masuk dalam cerita saya berjudul “Arthur: Kembali Ke Jakarta (1)”. Lily mengenakan jas dan rok ketat berwarna coklat muda dan kemeja berwarna biru. Rambutnya masih dibiarkan tumbuh panjang sedikit melewati bahu dan ia highlight berwarna coklat tua. Tubuhnya masih terlihat sekal dan sexi. Lily membalas pelukan dan ciuman saya.

“Hi, lama nggak ketemu” kata Lily.

Lily duduk disebelah saya dan kita saling berpandangan dengan gembira.

“Kapan pulang dari Amerika?” tanya saya.
“Udah dari tahun 2002” jawab Lily.
“Gimana kabar Doni?”
“Kita udah putus dari tahun lalu”

Lily sekarang bekerja di sebuah kantor konsultasi keuangan di Sudirman Square Office. Kami saling berbagi cerita sambil tertawa-tawa.

“Eh, souvenir kamu yang di kasih waktu di airport masih ada tuh” kata saya.
“Oya? Minta lagi dong, sayang tuh bagus celana dalamnya” kata Lily sambil tertawa.

Waktu menunjukkan jam 19:00, saya menawarkan untuk pergi makan malam tapi Lily menolak.

“Nggak bisa malam ini, saya ada rapat keluarga karena saudara sepupu saya mau nikah Sabtu ini dan saya yang menjadi ketua panitia” kata Lily dengan kecewa.
“Nggak apa-apa kalau nggak bisa, besok malam gimana?”
“Sip!” jawab Lily dengan mantap.

Kami berdua lalu beranjak menuju lift untuk ke tempat parkir di basement. Lily berdiri agak merapat di samping saya dan saya dengan lembut merangkul bahunya. Entah kenapa kita berdua sepertinya lengket sekali. Pintu lift terbuka lalu kita masuk. Hanya ada kita berdua di lift. Saya tidak tahu siapa yang mulai duluan, tapi yang pasti kita berdua langsung berciuman dengan ganas. Kami ber-french kiss dengan penuh nafsu.

“TING!” bunyi bel di lift menandakan pintu akan terbuka, kita langsung melepaskan diri kemudian keluar dari lift.

“Ke mobil saya dulu yuk” kata saya.

Saya menggandeng Lily ke mobil Toyota Land Cruiser 1998 saya yang diparkir tak jauh dari lift. Tempat parkir Sudirman Square Office menurut saya kurang bagus karena penerangan di garasi ini agak kurang sehingga tempatnya terlihat agak remang-remang. Mobil saya terpakir di antara dua pillar dan menghadap kedalam. Tidak ada lampu garasi di atas mobil saya sehingga mobil saya terlihat sangat gelap. Saya naik ke mobil dan duduk di belakang kemudi sedangkan Lily duduk di sebelah saya. Kita kembali berciuman. Saya membuka blazer Lily lalu melemparkan ke jok belakang. Lily meremas-remas kontol saya lalu dengan cepat membuka risleting celana saya kemudian mengeluarkan kontol saya dari balik celana dalam. Tangan saya langsung menggerayangi payudara Lily dari balik BHnya. Gairah dan nafsu kita terasa memuncak dan tak terbendung. Wajib baca!


Viral Kisah Ngewe Its Angie yang Liar

Viral Kisah Ngewe Its Angie yang Liar

  Aopok.com - “Nenek Neli..” begitu biasanya cucu-cucunya memanggil.

Nenek Neli pemilik rumah yang kutempati (kost) adalah nenek yang yang mengerti benar arti kecantikan wanita, itu menurut pandanganku. Usianya kira-kira 60-an, gerak-geriknya lembut dan gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas. Kalau kubanding-bandingkan, wajah Nenek Neli persis seperti bintang sinetron RE. Dengan kulit putih bersih dan terawat. Bagaimana tidak kelihatan bersih ni nenek, setiap minggu mandi susu, luluran dan perawatan kecantikan lainnya. Jadi pantaslah kecantikan masih memancar dan usia tuanya tidak begitu kelihatan.

Di rumahnya, Nenek Neli tinggal sendiri ditemani dua orang pembantu serta 3 kamar di lantai atas dikoskan. Anak-anak Nenek Neli ada 2 orang, Ibu Riri dan Ibu Rosa, sudah menikah tapi tinggal di lain kota. Aku, Ari dan Reni adalah anak-anak kostnya. Kami sebagai anak kost memang kompak bertiga dan sudah lama kost di rumah Nenek Neli. Sehingga kami bertiga ini sudah seperti keluarga atau ya sebut saja cucunya Nenek Neli. Selama kami tinggal, terutama aku, memang tidak ada pengalaman (sex) yang seru. Tapi sore itu, aku mendapat suatu pengalaman sex baru. Berhubungan sex dengan nenek-nenek, Nenek Neli! Nah.., begini ceritanya.

Aku (Jojo, 20 tahun) sampai di tempat kost jam 4 sore. Sepi, karena 2 orang tetangga kostku pulang ke rumahnya, mereka menghabiskan libur kuliahnya di rumah masing-masing. Aku memang ada rencana pulang, mungkin 2-3 hari lagi. Kulihat Nenek Neli sedang merawat bonsai-bonsainya.
“Sore.. Nek.” kataku sambil menghampirinya.
“O.., Nak Jo, udah pulang rupanya.”
Asyik sekali kelihatan Nenek Neli dengan bonsai-bonsainya. Hobynya yang satu ini memang cocok dengan pribadi Nenek Neli. Resik dan anggun, bagaikan bonsai peliharaannya. Karena capek dan Nenek Neli kelihatan asyik dengan bonsainya, aku pamit mau istirahat di kamar.

Pelan-pelan kunaiki anak tangga, menuju kamarku. Wah.., terasa sekali sepinya, biasanya sore-sore begini kami berkumpul sambil becanda-canda, terutama sama si Big Beautiful, Reni. Walaupun Reni ini bodynya bomber (beratnya 80 kg kurang lebih sih), wajahnya lumayan cantik juga. Gendut tapi wajahnya tidak terlalu bulat, pokoknya cantik deh. Gila! kok bisa ngelamunin Reni. Entah karena ngelamunin Reni atau memang nafsuku lagi kumat, kulepaskan celana, yang tinggal hanya CD-ku saja. Gundukan celana dalamku makin membesar, penisku tegang! Sakit juga rasanya, akhirnya kulepaskan CD-ku, telanjang bulat! Kumainkan penisku, kukocokin penisku sambil membayangkan menyenggamai si gendut Reni.

Tiba-tiba.., “Ceklek.. kreeit..,” pintu kamarku terbuka (aku lupa mengunci pintunya).
“Weleh-weleh.., Nak Jo, Nak Jo. Barang gede gitu kok dianggurin, sini masukin lubang Nenek aja..!”


Kaget sekali aku, tidak tahu rasanya, antara malu dan birahiku masih telentang bugil di tempat tidur. Tapi Nenek Neli dengan cueknya malah melangkah masuk ke kamar, menghampiriku. Rupanya dari tadi dia sudah menonton acara ngocokku. Dan aku benar-benar tidak menyangka akan ucapannya.
“Ngentot Nenek Neli..?”
“Siapa takut..!?”

Nah, ini yang kumaksud pengalaman baru dan membuat pribadi sex-ku berubah. Di kemudian hari, aku hanya senang berkencan (bersenggama) dengan wanita yang usianya di atas usiaku. Kalau tidak tante-tante, ya.. nenek-nenek. Dan yang pasti melalui Nenek Neli lah aku dikenalkan dengan teman-temannya. Pokoknya lebih asyik begituan dengan nenek-nenek, liang vaginanya keset dan agak sempit lah..! Lanjut baca!


Viral Ngentot Anal dan Memek Its Anggi

Viral Ngentot Anal dan Memek Its Anggi

  Biodataviral.com - Hidup memang penuh kejutan. Paling tidak aku sudah membuktikan itu. Perkenalkan, namaku Ronny, usia 28 tahun, tingi 170 berat 68 kg. Saat ini pekerjaan saya adalah wartawan muda di sebuah majalah ternama Ibukota. Lazimnya wartawan, sudah pasti aku memiliki banyak relasi. Tidak sedikit dari mereka adalah bos-bos di perusahaan ternama. Sebagai wartawan sudah pasti aku dituntut untuk bisa menaklukkan berbagai karakter dan persona setiap narasumberku.


Maklum, dengan kedekatan itu aku bisa mendapatkan berita ekslusif yang memang menjadi spesialisasiku. Nah, diantara banyak sumberku tadi tersebutlah nama Wita, seorang country manager sebuah Bank asing di Jakarta. Sebagai gambaran dari narasumberku ini. Usianya sekitar 36 tahun, dikaruniai 2 orang putra. Tingginya sekitar 165 cm dengan berat 57. Bodinya lumayan bagus, maklum rutin fitness dengan payudara kuperkirakan 34B.

Oh ya, perkenalanku dengan Mbak Wita, begitu aku menyebutnya, sudah berlangsung 4 tahun lebih. Awalnya, sudah pasti secara kebetulan. Ketika itu, Bank tempat Mbak Wita bekerja menggelar jumpa pers. Pada saat yang sama aku ditugasin oleh pimpinanku untuk meliput acara itu. Kloplah! singkat kata sejak pertemua itu yang diakhiri dengan tukar menukar kartu nama, aku berkenalan dengan Mbak Wita.

“Ron Met ketemu lagi ya, tolong beritanya yang bagus,” begitu Mbak Wita mengikhiri langkaku meninggalkan Hotel Indonesia.

Pertemuan kami di HI itu ternyata bukan yang pertama dan terakhir. Setelah perkenalan itu setiap kali Mbak Wita punya acara
Sudah pasti aku diundangnya.

“Ron besok datang ya, kami mau launch produk baru,” begitu pesan yang sering aku terima lewat SMs dari Mbak Wita.

Tidak heran, saking dekatnya, kami sering bertukar pendapat. Tidak hanya masalah perkerjaan yang kami diskusikan, dalam beberapa hal aku juga berani untuk menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Misalnya menyangkut hubungannya dengan sang suami, Mas Johan hingga cara dia mengelola rumah tangganya. Sebagai bujangan pengalaman itu sudah pasti penting bagiku jika menikah kelak.

Dari rasa saling percaya itu tidak terasa kedekatan diantara aku dan Mbak Wita sepertinya sudah tidak berjarak. Bahkan tidak jarang, karena aku membutuhkan informasinya, jam 12 malam pun aku menelpon dia jika aku kesulitan memahami sebuah kasus perbankan. Dan untungnya, Mbak Wita dan Mas Johan mengerti kondisi itu.

Oh, ya aku sendiri juga sudah mengenal Mas Johan sebagai salah satu direktur di perusahaan Sekuritas. Beliapun juga tahu dan tidak keberatan Mbak Wita selalu aku jadikan narasumber.


“Terima kasih Ron atas kepercayaan kamu pada Wita. Sekarang dia jadi terkenal lo,” ujarnya suatu kali ketika kami ber-6 makan malam bersama.

Sampai suatu kali, dimana hampir sebulan, kami tidak sempat kontak, Mbak Wita menggelar jumpa pers. Sudah pasti akupun datang ke acaranya.

“Hey apa kabar Ron. Kemana aja, kok lama nggak kontak. Nggak butuh berita nih,” ujarnya Kenes.
“Nggak lah Mbak, masak wartawan kagak butuh berita. Biasalah susah ngatur waktu. Abis banyak kerjaan sih,” aku menimpali. Lanjut baca!


Wow! Dokter Ngentot Anus Istri di Depan Mataku 2

Wow! Dokter Ngentot Anus Istri di Depan Mataku 2

  Tradingan.com - Sebenarnya banyak kebiasaan-kebiasaan orang di kapal itu yang memungkinkan terjadinya kontak seksual di antara komunitasnya, termasuk Bahar dan Sam. Bayangkan, mereka biasa mandi rame-rame di laut. Dan sebagian besar dari mereka biasanya mandi dengan bertelanjang bulat. Kemudian sehari-harinya mereka juga berpenampilan seenaknya. Bertelanjang dada dan hanya bercelana pendek atau sarungan saja. Bahkan tidak sedikit pula yang hanya bercelana dalam saja ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Sebenarnya Sam dan Bahar pun termasuk yang melakukan kebiasaan-kebiasaan itu. Tapi memang dasarnya mereka tidak punya niatan yang ‘jauh’, maka di antara mereka berdua tidak pernah terjadi hal-hal aneh pada saat-saat seperti itu.


Ada sebuah kekonyolan yang diceritakan Bahar. Di antara rekan mereka ada yang sesekali tanpa malu-malu mempertontonkan kemaluannya sendiri bila sedang tegang karena datang birahinya. Lalu orang itu berkeliling kapal sambil berteriak-teriak ‘Isep! isep! isep!, kocok! kocok! kocok!’ seolah menawarkan miliknya untuk diisap atau dikocok. Yang lain biasanya hanya menanggapinya dengan tertawa-tawa atau gelengan kepala melihat kegilaan itu.

“Oral seks? Ciuman? Tidak pernah sama sekali!”

Bahar menjawab dengan tegas pertanyaan yang kuajukan apakah ia pernah melakukan itu dengan Sam. Seolah-olah ia jijik melakukan hal itu.

“Kenapa?”
“Waktu itu saya ‘kan belum kenal begituan, Mas. Jadi nggak pernah kepikiran berciuman dengan sesama laki-laki, apalagi oral seks. Si Sam apalagi. Ia benci dengan kelakuan beberapa rekan di kapal yang kadang-kadang agak bebas dan terbuka dalam hal begituan.”

(Pada kesempatan yang berbeda, Bahar mengungkapkan bahwa ketika pertama kali bekerja di kapal itu, ia memang ‘terpaksa’ melakukan hubungan semacam itu karena kondisi yang mendesak. Tapi ketika ia pindah kerja ke kapal yang lain yang lebih besar-dan berpisah dengan Sam-secara perlahan Bahar mulai terbiasa dan bisa menikmati hubungan semacam itu, bahkan ia melakukannya sampai jauh. Apalagi setelah ketemu dengan si Portugis. Silakan baca ‘oase’ sebelumnya).

Jam dinding berdentang delapan kali. Tapi Bahar masih asyik bercerita tentang teman-temannya di kapal. Dan terus terang aku semakin tertarik dengan pengalaman-pengalamannya itu. Di luar kisah-kisahnya dengan Sam, ternyata banyak terungkap tentang hal-hal sepele yang diceritakan Bahar, tetapi cukup ‘menyengat’.

“Selain dengan Sam, Abang pernah dengan yang lain?” tanyaku. Ia menggeleng. Dan aku percaya saja.
“Jangankan ngajak main, bercanda sama kami saja mereka pikir-pikir,” kata Bahar kemudian.



Ia lalu bercerita bahwa ada satu dua teman mereka di kapal yang kadang-kadang bercandanya kelewat batas. Guyonan-guyonan mereka biasanya kasar, porno dan cenderung jorok. Bahkan kadang-kadang ada yang sampai betot-betotan ‘burung’ atau main pelorot-pelorotan celana, lalu melemparkannya ke laut. Di lain waktu bila kebetulan ada salah seorang ketahuan sedang ‘tegang’-entah karena sedang naik libidonya atau terangsang oleh sesuatu-maka ada saja temannya yang usil meremas miliknya sampai yang punya berteriak-teriak. Bahkan kadang-kadang ada yang lebih usil memelorotkan celana orang itu sehingga siapapun yang ada di sekitar situ bisa melihat dengan jelas kondisi kemaluan orang yang sedang tegang itu. Lanjut baca!


Viral Dokter Ngentot Anus Istri di Depan Mataku 1

Viral Dokter Ngentot Anus Istri di Depan Mataku 1

  Iklans.com - Bahar datang menjemputku sekitar jam satu, ketika matahari sedang terik-teriknya membakar ubun-ubun.

“Sudah makan ‘Bang?” sapaku begitu ia tiba di kedai Pak Tua tempat aku menunggu.
“Belum,” jawabnya pendek. “Kita makan siang di sini saja, ya?” ajaknya kemudian.

Setelah pamitan pada Pak Tua, kami kemudian menuju warung makan yang terletak sekitar seratus meter dari kedai ini. Bahar makan lahap sekali. Kelihatan ia sedang lapar. Padahal kalau mau, dia bisa saja makan di rumah. Tapi barangkali ia memang mau makan bareng aku. Sebuah kesetiaan yang kadang membuatku segan terhadapnya.


“Hei! Bahar!” suara teguran mengagetkan kami berdua.

Untuk kedua kalinya aku terkejut, karena orang yang menegur Bahar ternyata laki-laki yang kujumpai di gubug mandi tadi! Hhh! Bisa gawat nih, pikirku. Tapi untungnya laki-laki itu bersikap wajar ketika melihatku. Seolah kami belum pernah bertemu sama sekali. Kulihat Bahar dengan antusias menyambut sapaan laki-laki itu.

Mereka lalu saling menanyakan kabar masing-masing dan kemudian terlibat dalam pembicaraan yang akrab. Aku agak was-was juga kalau-kalau pembicaraannya menyinggung aku. Sampai akhirnya Bahar memperkenalkanku pada laki-laki itu.

“Samuel. Panggil saja Sam..” jabatannya akrab.
“Sam, masak kau nggak kenal dengan Pak Harsoyo? Dia kan yang dulu pernah penelitian di daerah sini,” Bahar mencoba mengingatkan temannya itu.
“O iya! saya baru ingat! Pantas, sepertinya saya sudah pernah lihat,” kepura-puraan Samuel membuatku agak jengah. Kenapa ia harus bersandiwara seperti itu? Toh, seandainya Bahar tahu bahwa kami sudah saling kenalan, itu suatu hal yang wajar.

Tentu saja ia dan aku bermaksud menyembunyikan kejadian yang kami alami bersama tadi. Tapi seharusnya ia tak perlu menyembunyikan kenyataan bahwa kami berdua sudah saling ketemu. Pasti ada alasan kenapa ia takut perkenalan kami diketahui oleh Bahar. Jangan-jangan ia tahu aku dan Bahar punya hubungan khusus atau, justru ia sendiri yang punya hubungan khusus dengan Bahar?


“Makan, Sam,” Bahar menawari.
“Terima kasih, aku sudah makan tadi. Sekarang aku musti ke laut. Ada proyek,” katanya sambil siap-siap berdiri.

Sam lalu pamitan pada kami dan mimik wajahnya seolah mengisyaratkan padaku untuk tetap merahasiakan kejadian dengannya tadi pagi.

“Teman lama, ‘Bang?” tanyaku begitu Sam berlalu ke arah bibir pantai.
“Ya. teman di kapal dulu,” jawab Bahar sambil mengunyah. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia